Kamis, 12 Januari 2012

BENEFIT COST RATIO

SEKILAS

Benefit Cost Ratio merupakan salah satu alat evaluasi kelayakan investasi. Pada pokok bahasan ini akan dijelaskan cara perhitungan dan hasil akhirnya apakah layak atau tidak.

PEMBAHASAN
Benefit Cost Ratio merupakan salah satu metode kelayakan investasi. Pada dasarnya perhitungan metode kelayakan investasi ini lebih menekankan kepada benefit (manfaat) dan perngorbanan (biaya/ cost) suatu invetasi, bisa berupa usaha, atau proyek. Pada umumnya jenis invetasi yang sering digunakan adalah proyek-proyek pemerintah dimana benefitnya jenis benefit langsung, manfaatnya akan terasa langsung pada masyarakat banyak.
Sebagai contoh dari proyek pemerintah adalah proyek pembangunan jalan tol Pasupati. Nilai benefit atau manfaat yang bisa didapatkan dari proyek tersebut misalnya efisiensi waktu tempuh antara Jakarta-Bandung, kenyamanan berkendara karena jalan yang dipakai dibuat senyaman mungkin dan peningkatan produktivitas lahan tersebut. Namun tidak hanya mendatangkan manfaat saja, investasi juga mendatangkan pengorbanan yang digolongkan kedalam cost. Jadi suatu invetasi atau proyek tidak bisa terlepas dari benerfit dan cost.
Benefit cost ratio analysis secara matematis merupakan perbandingan nilai ekuivalen semua benefit terhadap nilai ekuivalen semua biaya. Perhitungan ekuivalensi bisa menggunakan salah satu dari beberapa analisis. Contohnya :

 B/C=  PWbenefit/(PW cost)=  FWbenefit/FWcost=AWbenefit/AWcost

Untuk kriteria pengambilan keputusan untuk alternatif tunggal adalah dengan cara melihat nilai dari B/C apakah besar dari sama dengan satu atau kecil dari satu.
-Jika B/C ≥ 1 , maka alternatif investasi atau proyek layak (feasible), diterima
-Jika B/C < 1 , maka alternatif investasi atau proyek tidak layak (not feasible)

Sebuah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk membeli peralatan baru seharga Rp.35.000.000. Dengan peralatan baru itu bisa dilakukan penghematan sebesar Rp.500.000 per tahun selama 5 tahun. Pada akhir tahun ke 5 peralatan itu memiliki nilai jual sebesar 40.000.000. apabila tingkat pengembalian 9% per tahun. Apakah pembelian peralatan baru tersebut menguntungkan?
Penyelesaian :
Dengan menggunakan pendekatan present worth maka semua biaya dan benefit ditarik ke present
  
B/C=  (500.000 (P/A,9%,5)+40.000.000 (P/F,9 %,5))/35.000.000

B/C=  (500.000 (3,88966)+40.000.000 (0,64993))/35.000.000

B/C= 0,79 

karena kurang dari 1 maka investasi pembelian peralatan baru tidak layak atau tidak menguntungkan.


Alternatif Majemuk
Analisis Benefit Cost Ratio banyak  merupakan alternatif yang jumlahnya lebih dari satu. Untuk menghitung analisis alternatif banyak maka harus dilakukan secara inkremental seperti pada rate of return. Kriteria pengembalian keputusan berdasarkan nilai B/C yang diperoleh. Jika dari 2 alternatif  yang dibandingkan diperoleh nilai B/C ≥1 , maka alternatif dengan biaya yang lebih besarlah yang dipilih. Namun jika dari dua alternatif yang dibandingkan diperoleh nilai B/C<1, maka alternatif dengan biaya yang lebih kecil yang dipilih

Contoh :
Sebuah perusahaan akan membeli sebuah mesin untuk  meningkatkan pendapatannya. Dual alternatif mesin dengan usia pakai masing-masing sama yaitu 10 tahun ditawarkan kepada perusahaan :
Mesin
Harga beli
Keuntungan  per tahun
Nilai sisa di akhir usia pakai (Rp)
X
3.000.000
700.000
1.000.000
Y
3.500.000
800.000
1.500.000

Dengan MARR 15% per tahun, tentukan mesin yang harus dibeli
Penyelesaian :
urutan alternatif : Do Nothing (DN), Mesin X, Mesin Y

membandingkan DN dengan mesin X
DN (1)
Mesin X (2)
Inkremental
(3)=(2) – (1)
0
0
-3.000.000
-3.000.000
1-9
0
    700.000
    700.000
10
0
1.700.000
1.700.000

 B/C=  (700.000 (P/A,15%,10)+1.000.000 (P/F,15%,10))/3.000.000

B/C=  (700.000 (5,01877)+1.000.000 (0,24718))/3.000.000

B/C= 1,25  , Nilai B/C ≥ 1, pembelian X layak dilakukan

Membandingkan mesin X dan mesin Y :
Tahun
Mesin X (1)
Mesin Y (2)
Inkremental
(3)=(2) – (1)
0
-3.000.000
-3.500.000
    500.000
1-9
    700.000
800.000
    100.000
10
1.700.000
2.300.000
600.000

*1,7 juta dan 2,3 juta merupakan penjumlahan annual benefit dengan salvage value

 B/C=  (100.000 (P/A,15%,10)+500.000 (P/F,15%,10))/500.000

B/C=  (100.000 (5,01877)+500.000 (0,24718))/500.000

B/C= 1,24  , 
  
Nilai B/C ≥ 1, pembelian Y layak dilakukan, namun sebelum itu, untuk kasus dengan banyak alternatif  yang bertipikal mutually exclusive, maka jika 2 alternatif menghasilkan Nilai B/C ≥ 1, maka lihat cost yang paling tinggi. Maka dengan perhitungan B/C dan nilai cost yang tinggi, alternatif jatuh pada alternatif Y.

Contoh soal berbeda alternatif, dengan berbeda usia pakai.
Sebuah perusahaan sedang mempertimbangkan untuk mengganti mesin lama dengan mesin baru. Tiga buah alternatif tersedia dengan data sebagai berikut :

A
B
C
Investasi awal (Rp.)
6.000.000
12.000.000
15.000.000
Keuntungan/tahun
    700.000
1.000.000
    1.200.000
Usia pakai (tahun)
10
20
20

Mesin baru yang akan dibeli direncanakan untuk digunakan selama 20 tahun. Oleh karena usia pakai mesin A hanya 10 tahun, maka pada akhir tahun ke-10, mesin itu dapat digunakan dengan mesin lain dengan konsekuensi ekonomi yang sama. Setiap alternatif tidak memiliki nilai sisa. Tentukan mesin mana yang layak dibeli jika menggunakan MARR 6%  per tahun

Penyelesaian
Urutan alternatif : DN,A,B,C
àmembandingkan DN dengan mesin A :
Tahun
DN (1)
Mesin A (2)
Inkremental
(3)=(2) – (1)
0
0
-6.000.000
    -6.000.000
1-9
0
700.000
    700.000
10
0
0
-6.000.000
700.000
-6.000.000
700.000
11-20
0
700.000
700.000

B/C=  (700.000 (P/A,6%,20))/(6.000.000+6.000.000(P/F,6%,10))

B/C=  (700.000 (11,46992))/(6.000.000+6.000.000(0,55839))

B/C=  8.028.944/9.350.340=0,85 Nilai   B/C< 1,pembelian A tidak layak dilakukan. 

Sehingga perhitungan B/C yang dibandingkan adalah alternatif DN, dengan B
àmembandingkan DN dengan mesin B :
Tahun
DN (1)
Mesin B (2)
Inkremental
(3)=(2) – (1)
0
0
-12.000.000
    -12.000.000
1-20
0
1.000.000
    1.000.000

B/C=  (1.00.000 (P/A,6%,20))/12.000.000

B/C=  (1.000.000 (11,46992))/12.000.000

B/C=  11.469.920/12.000.000=0,95 Nilai   B/C< 1,pembelian B tidak layak dilakukan. 

Dari 2 perhitungan B/C diatas masing-masing menghasilkan nilai yang kurang dari satu, maka apabila hal ini terjadi, lihat alternatif yang memiliki  cost terkecil. Alternatif DN masing unggul, sehingga alternatif perhitungan selanjutnya adalah DN dengan alternatif C.
àmembandingkan DN dengan mesin C :
Tahun
DN (1)
Mesin C (2)
Inkremental
(3)=(2) – (1)
0
0
-15.000.000
    -15.000.000
1-20
0
1.200.000
    1.200.000

B/C=  (1.20.000 (P/A,6%,20))/15.000.000

B/C=  (1.200.000 (11,46992))/15.000.000

B/C=  13.763.904/15.000.000=0,91 Nilai   B/C< 1,pembelian C tidak layak dilakukan.

Maka kesimpulanya, diantara 3 alternatif A,B,C tidak ada yang layak atau menguntungkan, sehingga, dengan tidak mengambil ketiga alternatif tersebut merupakan jalan yang terbaik (Do Nothing)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar